Soal Penarikan di Bank Jambi, Ternyata Banyak Kades Alami Kurang Uang

oleh
Foto : Ilustrasi/Ist-net

KERINCI-Sejak mencuat kabar soal jumlah uang kurang saat kepala desa melakukan penarikan Dana Desa di Bank Jambi cabang Sungaipenuh, ternyata mendapat banyak sorotan publik dan tanggapan kades di Kerinci dan Sungaipenuh.

Ternyata selama ini, sejumlah kepala desa di Kabupaten Kerinci dan Sungaipenuh, sering mengalami hal tersebut saat melakukan penarikan di Bank Jambi. Masalahnya beragam, mulai dari uang kurang, uang robek, hingga terselip uang pecahan 10 ribu dalam ikatan.

Pada salah satu media online, Kepala Bank Jambi cabang Sungaipenuh, Mulyadi, mengaku dari 285 desa di Kerinci dan 65 desa di Kota Sungaipenuh, itu baru pertama kali ada kepala desa yang komplain. Dia juga meminta kepala desa memberikan label (ikat) uang yang diterima, untuk ditelusuri.

“Kades dan bendahara tidak memperlihatkan bukti. Keluhan tersebut disampaikan dua minggu setelah pencairan. Seharusnya, setelah menerima uang dari teller, dihitung kembali. Ini berlaku bagi semua bank,” katanya.

Terkait pernyataan Kepala Bank Jambi cabang Sungaipenuh tersebut, kepala desa yang dimaksud saat dimintai tanggapannya, mengatakan bahwa label bank yang diminta sudah diserahkannya.

“Sudah kita serahkan pada Selasa pekan lalu. Kalau tidak salah ada 18 label yang kita serahkan,” ungkap Kades.

Dikatakannya, dirinya memberanikan megajukan komplain bukan semata karena uang kurang. Akan tetapi, ingin memberitahu kepada pihak bank agar lebih teliti untuk kedepannya.

“Masalah uang kurang memang tidak seberapa, Rp 400 ribu. Namun ini perlu menjadi evaluasi pihak bank, agar kejadian ini tidak berulang, itu yang terpenting,” ungkapnya.

Terpisah, setelah berita itu mencuat, sejumlah kades lainnya ikut buka suara dan mengaku pernah mengalami kejadian serupa, dan kejadian tersebut terjadi tidak hanya satu kali, namun sudah berulang.

“Banyak yang kurang. Saya kurang Rp 100 ribu. Saya pikir hanya saya yang kurang, setelah satu minggu banyak kades lain yang mengaku kurang uang dari penarikan di bank itu (Bank Jambi,red),” ungkap kades lainnya.

“Bahkan, dalam ikat uang yang saya terima, ada terselip uang Rp 10 ribu,” sambungnya.

Tidak hanya kades di Kerinci, kades yang ada di Kota Sungaipenuh pun juga mengaku sama. Jumlah uang yang diterima sering kurang. Hal itu diketahui, ketika label dibuka dan dihitung untuk pembayaran sejumlah keperluan desa, termasuk pembagian BLT.

“Pernah juga, setelah penarikan langsung bawa pulang. Kita menemukan uang kurang saat dihitung pada pembayaran berbagai keperluan, termasuk uang yang robek juga sering,” ungkap kades di Sungaipenuh.

Atas kejadian ini, para kades meminta pihak bank agar lebih teliti lagi untuk kedepan. Karena uang yang dikelola tidak sedikit. Karena, setelah keluar dari bank, jumlah uang tidak lagi tanggung jawab bank.

“Kalau untuk menghitung ulang di depan teller, kayaknya repot. Karena saat pencairan, bukan kita sendiri, banyak yang antre,” terang kades.

Terhadap kejadian tersebut, juga menuai berbagai respon publik. Ada yang menilai wajar karena mungkin petugas bank khilaf, ada yang menilai petugas bank kurang teliti, dan juga ada yang berasumsi adanya unsur kesengajaan oleh oknum tertentu, karena kejadian tersebut terjadi berulang dan dialami banyak kades.

“Banyak indikasi dugaan yang terjadi. Namun kejadian ini perlu menjadi bahan evaluasi penting Bank Jambi cabang Sungaipenuh,” ungkap salah seorang warga.(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *