Kegiatan Berkurang “Ongkos” Naik, STIA Didemo

oleh
Foto : Aksi mahasiswa saat unjuk rasa menuntut transparansi keuangan di STIA-Nusa.(kloase-dok)

SUNGAIPENUH-Menuntut transparansi pihak kampus atas rupiah yang dibayar, puluhan mahasiswa STIA-Nusa Kota Sungaipenuh turun ke jalan. Aksi tersebut dalam rangka unjuk rasa ke pihak kampus, Selasa (14/9).

Puluhan mahasiswa yang menggelar aksi, mengenakan atribut kebanggaan STIA berwarna biru, lengkap dengan poster karton bertuliskan sentilan untuk pihak kampus.

Dalam aksi demo tersebut, mahasiswa menuntut transparansi pihak kampus terhadap pembayaran uang semester dan pengelolaan biaya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hal itu bukan tanpa alasan, mengingat kegiatan kampus saat ini jauh berkurang dari tahun sebelumnya.

Untuk uang semester, mahasiswa mempertanyakan lantaran adanya kebijakan kampus untuk mempercepat masa semester.

“Seperti semester 8 dimasukkan pada semester 9 berlaku mulai 1 September. Bahkan semester 9 diberi waktu 2 bulan, jika tak tuntas harus bayar lagi untuk semester 10, ini sangat merugikan mahasiswa,” ungkap Presiden Mahasiswa STIA Yukazamril.

Selain itu, untuk biaya KKN juga dipertanyakan. Karena biaya KKN meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, sedangkan kegiatan KKN berkurang lantaran situasi pandemi Covid-19.

“Tahun sebelumnya biaya KKN Rp 2 juta, sekarang Rp 2,5 juta. Kalau dulu ada kegiatan seperti turnamen atau seremonial di desa tempat KKN, sekarang tidak ada, tapi biaya KKN malah naik,” terang mahasiswa.

Terhadap uang semester dan biaya KKN yang dibayar, selama ini pihak kampus juga tidak transparan peruntukannya untuk apa saja, apakah uang tersebut habis untuk kepentingan pengelola tertentu.

“Kita juga menolak penetapan KPUM dan penetapan PKKMB yang dibentuk oleh oknum dosen,” ungkap mahasiswa.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa ditemui Wakil Ketua, Masnon, dan sejumlah dosen. Mahasiswa diajak masuk ke ruang pertemuan untuk audiensi dan menampung aspirasi mahasiswa.

Informasi lain yang dihimpun, tuntutan mahasiswa memang berawal dari kecurigaan terhadap kegiatan kampus. Bahkan honorium dosen supervisor KKN juga dikurangi, tapi malah biaya KKN mahasiswa ditambah.

“Mungkin saja uang tersebut sudah habis, karena memang tidak transparan. Pengelolaan uang tersebut dikelola oleh salah seorang dosen di kampus,” ungkap salah seorang dosen STIA.”(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *